Marhaban Yaa Ramadhan.
Tak ada kata yang lebih layak untuk kita ucapkan selain alhamduliLlah. Bersyukur kita kepada Allah, Ar Rohman Ar Rohim, yang telah mengizinkan kita kembali menikmati kesyahduan dan kenikmatan Ramadhan. Berapa banyak kerabat dan handai taulan, kolega dan rekan, yang tahun lalu masih membersamai kita bersahur, berbuka, tarawih, i’tikaf dan ngabuburit, kini sudah tiada, dipanggil menemui Sang Maha Pencipta.
Syukur ini bukanlah main-main. Karena jika sekarang mereka yang tak menjumpa Ramadhan tahun ini. Bisa jadi kitalah yang tidak mendapati Ramadhan di tahun depan. Bisa jadi ini Ramadhan terakhir kita. Tak ada jaminan, masih ada jatah umur kita hingga setahun mendatang.
Maka kesyukuran ini harus jadi daya yang mentenagai semangat dan ghiroh kita dalam beribadah dan beramal sholih. Jadikan Ramadhan tahun ini sebagai Ramadhan terbaik.
Syukur dapat diartikan sebagai menggunakan pemberian sebagaimana maksud dan tujuan sang pemberi. Maka ketika definisi ini yang dipakai, layaklah kita bertanya apakah tujuan Allah memberikan Ramadhan yang sangat berharga ini kepada kita? Allah menyebutkannnya secara eksplisit tujuan Ramadhan bagi manusia, yakni agar manusia menjadi pribadi bertaqwa. La’allakum tattaquun.
Dan mencapai derajat taqwa bukanlah perkara mudah yang manusia bisa dengan rebahan saja bisa meraihnya. Perlu mujahadah. Dan jika kita hendak mencari benchmark atau tolok ukur dalam memanfaatkan Ramadhan untuk mencapai derajat taqwa, maka adalah beliau RasuluLlahi shollaLlahu ‘alaihi wasallam.
Dan jika RasuluLlah yang kita jadikan tolok ukurnya, maka betapa beliau bermujahadah dalam Ramadhannya. Dan bukankah kemenangan pertama dan gemilang dalam Perang Badar juga terjadi di Bulan Ramadhan. Betapa malunya kita, ketika menjadikan Ramadhan sebagai alasan untuk bermalas-malasan. RasuluLlah kala itu berusia 55 tahun, berpuasa dan berperang!
Ramadhan, sejatinya adalah momentum untuk meraih kemenangan sebagaimana yang dikumandangkan dalam malam takbiran. Kemenangan melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang melalaikan sehingga kita terpuruk dalam kemalasan, kebodohan dan keterbelakangan. Hawa nafsu yang melengahkan sehingga kita menjadi bulan-bulanan kekalahan dan kehinaan.
Marhaban Ya Ramadhan. Selamat Datang Ramadhan. Bulan Keberkahan. Bulan Perjuangan. Bulan Kemenangan.


